Edisi November

!!THRILLER!!

Milad ke-17 Forum Lingkar Pena


Resensi Buku Perempuan Merah & Lelaki Haru

Fauziah Rachmawati
FLP Malang

Judul: Perempuan Merah & Lelaki Haru
Penulis: FLP Malang
Penerbit: Ide Kreatif
ISBN: 978-602-18126-3-1
Tebal: 158 hal
Dimensi: 14,5 x 20,5cm
Tahun terbit: November 2012
Cetakan: ke I
Genre: Fiksi – Cerpen
DDC: 813
Harga 40.000 (25.000 untuk pembelian 12November-30 November 2013. Pemesanan 085649505617)
Rating: 4/5


Sudah menjadi ciri khas yang sulit dibantah ketika para anggota FLP menelurkan karya fiksi mereka. Entah bagaimana cara mereka menulis, tetapi setiap kali saya membaca karya-karya mereka, selalu saja kesan mendalam berhasil terpatri di dalam hati saya. Karya-karya fiksi mereka memang khas, itulah yang juga saya rasakan dari buku kumpulan cerita pendek berjudul “Perempuan Merah & Lelaki Haru” ini. Dari sampulnya saja, yang didesain sederhana namun tetap elegan, saya sudah bisa merasakan kesan yang mendalam itu, apalagi ketika membaca isinya, luar biasa.

Buku ini berisi 15 cerita pendek yang ditulis oleh 11 orang anggota FLP Malang, yang karyanya sebagian besar pernah diterbitkan di surat kabar berbagai kota, majalah, dan bahkan memenangkan lomba kepenulisan tingkat provinsi dan nasional. Saya rasa bukan isapan jempol semata jika saya menyebut karya-karya di dalam buku ini adalah karya berkualitas, sebab karya itu sendiri telah membuktikannya. Selain berkualitas, cerpen-cerpen yang ada di dalamnya juga kaya akan ide. Anda akan menemukan beragam tema yang diramu secara kreatif dengan karakter yang berbeda-beda pula. Inilah yang coba disampaikan para penulis secara tak langsung.

Alone

Edgar Allan Poe

From childhood's hour I have not been
As others were; I have not seen
As others saw; I could not bring
My passions from a common spring.
From the same source I have not taken
My sorrow; I could not awaken
My heart to joy at the same tone;
And all I loved, I loved alone.
Then- in my childhood, in the dawn
Of a most stormy life- was drawn
From every depth of good and ill
The mystery which binds me still:
From the torrent, or the fountain,
From the red cliff of the mountain,
From the sun that round me rolled
In its autumn tint of gold,
From the lightning in the sky
As it passed me flying by,
From the thunder and the storm,
And the cloud that took the form
(When the rest of Heaven was blue)
Of a demon in my view. 

Pendulum

Daniel Liutama
University of Minnesota, MN


I was in class, looking at the pendulum on Mr. Brown’s Desk. The pendulum was made out of aluminum balls hitting together every second making soft ticking sounds. There were five metal balls. I could imagine each collision sparked as they were hitting each other. I could see a red mark on each ball. I could not recognize the marks, but it seemed that they were Chinese symbols. I swept my gaze around the room and saw twenty seven students being the chaos they were. It was almost the end of class, they all seemed excited. Some of them were singing loudly, some were drumming their finger against the table, trying to match the beat of the pendulum, some were chatting and some were quiet like me. I continued observing the movement of the pendulum. “Hmm… I wonder what those marks mean.” I said to myself. “Melody-” said Lee, the new student who was sitting one table behind me. “Curse, deception, insanity, death” she continued. I turned back and saw her smiling at me. “Nobody asked you Lee!” I said. “You are mean Kenji, the pendulum doesn’t like mean people.” She replied.

“Kenji!” Mr. Brown called out my name in the middle of my conversation. I stood up and approached him. I sat on the fourth row in class, so it took a few seconds to reach his table. Looking at what he was holding, it seemed that he was handing out assignment results from last week. While I was approaching him, I looked at him and our eyes met. I saw him stare at me for seconds.my gaze did not move. When I grabbed my exam score, he did not let go right away. “It is a shame, could have done better!“ he said. “You didn’t even teach us this!” I said and took my exam with a little additional force. “Remember how I said that the force is the same everywhere? And the-“Mr. Brown started giving me a little lecture. I saw his mouth opening and closing. I felt the vibration of his words in my ear, but none of them stayed. I got distracted by the sound of the pendulum, “Where did you get that pendulum?” I said. “Huh? What?” said Mr. Brown. “Impressive! Seems like you pay more attention to my pendulum than feedback! Lee’s parents gave it to me. Don’t stare at it too much, you’ll get dumber!” said Mr. Brown. I did not respond and got back to my seat. “So how was your test?” said Lee. “What do you think?” I replied. “You did well?” she said. “Yes Lee! I did well! I bet you could tell from the frown on my face!” I knew she was being nice, but I was mad because I failed the assignment. “You don’t have to be sarcastic Kenji. The pendulum does not like sarcastic people,” she said. “What’s with this pendulum? And why are you mentioning it all the time?” I said. “It is alive I tell you,” she said. “You are one crazy kid Lee!”

Dorothy

Michelle Anindya
University of Minnesota, MN
  
          When Maryland Thomson dies he wants to be buried with the body of a twelve year old girl. He wants her alive. He calls his eternal companion Dorothy. Dorothy has to be dressed in an off-white ruffle dress which he tailored himself. He wants her to wear white stockings and suede black mary-jane shoes. New ones. Dorothy must have natural curly hair, on which she pins down a small pink ribbon, and rosy cheek which pops out from her fair smooth skin. Blue eyes always stand out from a fair skin as if calling for attention. Beautiful. But most importantly, Dorothy has to be a virgin. A purity of flesh; an untainted soul. Absolutely neither touch nor kiss has landed on her vestal skin.
            “Before you put Dorothy inside the coffin,” says Thomson to his maids, “bath her with milk, followed by a full bath of roses.” Thomson shifts his sights to the cooks with whom he orders them to prepare Dorothy’s last-wish meal. “And don’t forget to mix some sleeping pills in her food.”
            Once she falls asleep, she is ready. She’s fragrantly clean, beautiful, fair, and most importantly, asleep. “Now, put her wedding ring on. Perfect. That’s the time you put Dorothy inside the coffin beside my side.” While lying next to him, Thomson wants Dorothy’s hand to be put on top of his chest and her leg wraps around his. Thomson understands that she may feel hungry when she wakes up the following day. Therefore, he wants his maids to put some dried fruits and bread in the coffin for her to eat. Not to mention, some stocks of her favorite snacks.
“Now, finally, place a flashlight in her hand so she can look at me.”
Thomson is done. His eyes fall into a list of 28 twelve-years-old girls who are keen to be his Dorothy. He smiles impudently. Then he writes a check for whomever is going to be his lucky Dorothy.
             



Seprei Merah Maroon

Evi Susilowati
University of Minnesota, MN

Rumah ini hening. Sinar matahari musim panas terlihat menerobos jendela ruang tamu, menyilaukan mata siapapun yang memandang ke arah jendela itu. Di sebelah jendela kaca tadi, terdapat pintu kayu yang menghubungkan dunia luar yang begitu ramai dan luas dengan bagian dalam rumah ini yang begitu sunyi. Seorang wanita muda tampak berjalan memasuki rumah, kemudian menutup pintu itu. Tangannya membawa sekumpulan surat dan sebuah paket yang baru diantar oleh pak pos langganan.
Laurent Green berjalan melewati ruang tamu, berbelok ke kanan menuju dapur. Diletakkannya surat-surat tadi di atas meja makan. Dia mendesah, matanya menangkap setumpuk peralatan makan yang belum dibersihkannya tadi. Dibawanya peralatan makan kotor itu ke wastafel, sebagian dia masukkan ke mesin pencuci piring. Sinar matahari menusuk matanya, tiba-tiba, saat dia memandang keluar jendela di depan wastafel dapurnya.
Baru saja selesai meletakkan peralatan yang dicucinya tadi, Laurent teringat suatu hal. Barney. Anjing kesayangannya itu pasti sedang menunggu tuannya mengantarkan makanan untuk siang hari. Cuaca musim panas yang begitu cerah pasti membuat anjing itu bersemangat berlarian keliling halaman belakang, batin Laurent.

Aroma

Ratna Widayanti
University of Kentucky, KY 

Ini adalah bulan ketiga kami menempati asrama baru kami. Tempatnya di sebuah desa kecil dengan pemandangan gunung dan hutan. Di belakang gedung kelas terdapat sebuah sungai. Di sekeliling sungai itu terdapat pepohonan yang lebat. Di belakang gedung asrama terdapat tanah tegalan yang sekilas mirip dengan hutan jika dilihat dari kejauhan. Tempat ini sangat sepi, sangat cocok bagi kami para siswa untuk belajar. Di pagi hari, udara dingin pinggiran kota Malang ini selalu menusuk kulit kami. Benar-benar tempat yang damai dan indah, begitu pikirku. Akan tetapi, tempat ini seakan menyimpan misteri di tengah keheningannya.

Orang bilang, tanah ini di kutuk. Mereka bilang, dulunya ada seorang kaya yang pelit air tinggal di tanah ini. Karena pelit, dia pun dikutuk oleh orang-orang desa sehingga tanah ini pun dikenal angker. Buktinya, ketika kompleks asrama ini baru selesai dibangun, ketika para pekerja berusaha menggali sumber air, mereka tidak dapat menemukannya. Padahal, tempat ini dekat dengan sungai. Baru ketika mereka memindahkan lokasi untuk yang ketiga kalinya, sumber air itu pun akhirnya berhasil ditemukan. Banyak pula yang mengatakan bahwa di tanah tegalan di belakang gedung asrama ini, ada sebuah gerbang ke dunia lain. Katanya, sebelum tempat ini dijadikan asrama, banyak yang menolak menggunakan lokasi ini karena takut akan legendanya. Kalau bukan karena pemerintah kota memberikan tanah ini untuk sekolah kami, mungkin kami pun tidak akan pernah tahu tempat ini.

Tahapan Perjalanan dan Archetype dalam “The Hero’s Journey” Bagian 2 Seri Penulisan Fiksi

Julie Nava
Clinton Township, MI

Yang saya sukai dari konsep The Hero’s Journey adalah inti pemahamannya yang berdasarkan pada pengamatan tentang “pattern”, yakni struktur atau pola dari sesuatu. Mengamati pattern adalah salah satu cara yang efektif untuk digunakan saat kita ingin memahami sebuah isu, kejadian, atau merencanakan sesuatu. Christopher Vogler menggunakan metode ini saat menganalisa sebuah cerita atau naskah film. Sama seperti Joseph Campbell, yang memberi inspirasi pada Christopher Vogler mengenai The Hero’s Journey. Campbell juga menggunakan konsep pattern saat menulis naskah fiksinya.
Mengapa kita perlu memahami struktur atau pola saat menulis naskah fiksi?

Tidak lain karena itu mempermudah kita untuk memahami keseluruhan bentuk cerita dan merancang alur ceritanya. Ibarat bergerak dalam sebuah medan perang, jika kita ada di dalamnya, maka sedikit sulit untuk mengamati yang terjadi di medan perang dengan leluasa, dan harus mengandalkan sinyal dari yang lain. Sementara kalau kita berada di sebuah dataran tinggi dan mengamati perang itu dari jarak tertentu terlebih dahulu, dengan mudah kita bisa melihat gambaran medan secara keseluruhan dan mengatur bagaimana agar perang tersebut bisa berjalan sesuai rencana.

The Little Mermaid by The Brothers Grimm

The Brothers Grimm

Once upon a time...

in a splendid palace on the bed of the bluest ocean, lived the Sea King, a wise old triton with a long flowing white beard. He lived in a magnificent palace, built of gaily colored coral and seashells, together with his five daughters, very beautiful mermaids.

Sirenetta, the youngest and loveliest of them all, also had a beautiful voice, and when she sang, the fishes flocked from all over the sea to listen to her. The shells gaped wide, showing their pearls and even the jellyfish stopped to listen. The young mermaid often sang, and each time, she would gaze upwards, seeking the faint sunlight that scarcely managed to filter down into the depths.

"Oh, how I'd love to go up there and at last see the sky, which everyone says is so pretty, and hear the voices of humans
and smell the scent of the flowers!"

"You're still too young!" said her mother. "In a year or two, when you're fifteen. Only then will the King let you go up there, like your sisters!" Sirenetta spent her time wishing for the world of humans, she listened to her sisters' stories, and every time they returned from the surface, she would ask them questions, to satisfy her curiosity.

Pada Kakiku Ternganga Jurang, di Atas Diriku Melengkung Langit Terang Cuaca

R.A. Kartini
12 Januari 1900
(Nona Zeehandelaar)

Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku.

Sekiranya dapat aku mengecilkan tubuhku hingga dapat aku masuk ke dalam sampul surat, pastilah aku turut serta dengan surat ini mengunjungi engkau, Stella, dan abang kesayanganku dan… Diamlah! Cukuplah! Bukan salahku, Stella, di sana sini aku menulis yang bukan-bukan. Gamelan kaca di pendopo lebih tahu akan hal itu. Gamelan itu melagukan lagu kami bertiga. Bukan nyanyian, bukan lagu sebenarnya, hanyalah bunyi dan suara, amat lemah lembutnya, tiada tetap, bergetar tiada berketentuan beterbangan, tetapi alangkah rawannya hati, alangkah indahnya! Bukan, bukan suara kaca, tembaga, kayu, yang naik itu ke udara, melainkan suara yang keluar dari sukma manusia, meresap ke dalam hati, kadang-kadang keluh kesah, sebentar lagi meratap mengangis, sekali-sekali gelak tertawa. Dan sukma saya pun terlayang-layang dibawa suara lemah lembut bersih itu, naik ke atas, ke dalam udara tipis biru itu, ke awan kapas, ke bintang di langit yang bersinar-sinar:-suara lembap pun naiklah, dan suara itu membinging aku melalui lembah gelap, jurang dalam, melalui hutan rimba semak belukar yang tiada terlalui! Dan sukmaku gemetar, mengerucut karena takut, karena pedih dan sedih!

Menoleh ke Belakang untuk Maju ke Depan

Nandra Galang Anissa
Cardiff University, United Kingdom

Di suatu musim dingin tahun 2012, saya berjalan menyusuri kota Berlin. Lebih tepatnya, saya meyusuri jalan dimana tiga puluh tahun silam, terbentang sebuah tembok raksasa, yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur.

Harus saya akui, saya jatuh cinta pada kota Berlin, karena kota ini sarat dengan sejarah, mau itu sejarah yang baik, maupun yang buruk. Selama satu hari penuh saya di Berlin, saya mengaitkan sejarah kota tersebut dengan segregasi. Contoh yang paling terkenal adalah saat pemerintahan Nazi,  dimana masyarakat di Jerman terpisahkan atas perbedaan kepercayaan mereka; antara umat Yahudi dan bangsa Arya. Tidak hanya itu saja, masyarakat penyandang cacat, homoseksual, dan siapapun yang menentang ideologi partai Nazi, tidak dianggap sebagai rakyat Jerman.

Setelah jatuhnya Hitler pun, Jerman tetap terbagi, antara Jerman Timur yang mengadopsi ideologi komunisme dan Jerman Barat yang lebih menganut ideologi kapitalisme. Sekali lagi, negara itu terpisahkan. Kali ini, segregasi dalam negara tersebut diidentifikasikan melalui sebuah konstruksi masif, yakni tembok Berlin.

Alasan utama saya jatuh cinta pada Berlin adalah karena mereka mau mengakui sejarah mereka yang penuh pertumpahan darah. Menurut saya, bangsa yang besar dan berwibawa adalah bangsa yang mau menerima dan mengakui kesalahan mereka di masa lampau. Tidak ada yang untung dengan berusaha menghapus sejarah hitam dari ingatan masyarakat.

Pesta di Panggung Sandiwara

Oleh Arianne Santoso
UC Berkeley, CA

Sudah hampir 3 tahun, hari kemerdekaan saya lewatkan tanpa kehadiran perlombaan kerupuk, balap karung, dan tontonan panjat pinang. Dan sudah bertahun-tahun saya semakin sadar kalau perayaan hari kemerdekaan ini layaknya sebuah pesta di panggung sandiwara.

Traveling In and Out of Indonesia

Oleh Leonie J. Thebez
New York University, NY

Chaotic, unruly and jittery were the first three words that came to mind when I thought of Jakarta. The moment you step foot outdoor, you will be greeted right away with the smell of dust and humid air. Chorus of car horns, motorcycle roars and footsteps against the dust will then follow; creating a rather gritty symphony– quite typical of any metropolitan city in South East Asia. People seldom followed the traffic regulations too. They cuts, speeds and stops as and when they wished. Alongside your private cars, the road is always packed with motorcycles, bajaj, angkot (a mini public van), crazy Metro mini buses and monstrous trucks while street vendors alongside pedestrians crawled around like ants.  Yes, that was the Jakarta in my memory. The Jakarta as seen from the comfort of my fully air-conditioned car.

Karawang-Bekasi

Oleh Chairil Anwar

Illustration by Benson Putra

















Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lgi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kaci cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harpan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir


Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas penyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Penantian

Oleh Ratna Widayawanti
University of Kentucky, KY

Pukul 12:00 siang. Aku kembali melirik jam tanganku. Tiba-tiba saja rasa gelisah itu muncul kembali. “Kenapa belum datang ya?” Tanyaku padanya. Dia hanya tertawa canggung. Kulirik kembali jam di tanganku, pukul 12:02. Aku semakin gelisah. Seharusnya mereka datang tiga puluh dua menit yang lalu. Kuangkat telepon di sampingku. Kubuka kertas catatan yang sudah tak berbentuk itu. Kupencet nomor itu sekali lagi. Satu menit berlalu, tak ada jawaban. Entah sudah berapa kali aku mencoba menelepon. Pikiranku melayang tak karuan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa belum datang juga?

FIKSI: Catatan Perjalanan Seorang Pahlawan

Oleh Julie Nava
Clinton Township, MI

Bagian 1 Seri Penulisan Fiksi

Fiksi, bagi sebagian penulis, adalah media yang dianggap paling lentur untuk menyampaikan pikiran. Penulis bisa leluasa menciptakan momen, dialog, karakter, hingga nasib dari tokoh-tokoh ciptaan imajinasinya. Melalui fiksi, seorang penulis bisa menyampaikan buah pikirannya melalui pertukaran dialog antar tokoh dalam ceritanya, atau melalui penggambaran sebuah kejadian. Fiksi juga mampu mengurangi resiko menggurui pembaca, karena ada teknik tertentu untuk mengubah nuansa ceramah menjadi nuansa bercerita.

Aku Dalam Rindu yang Menderu

Oleh Ika Pasca Himawati

Kau tahu, liuk angin kali ini masih melambai menggerakkan dedaunan yang bewarna hijau dan kuning tua. Hembusannya membuat daun merona, membuat garis pembatas antara satu ruas dengan ruas lainnya semakin lama rapuh tak bersekat. Menyisakan dedaunan hanya mengikuti ritme dan irama.

Secarik bait rindu ini masih tertahan, seperti liukan dedaunan yang ditempa angin. Berusaha tak jatuh dan kuat menancap pada batang yang kini semakin kekar saja. Rindu ini masih bertahta dalam jiwa. Menantikan dirimu yang entah tak terlacak oleh radar tercanggih di dunia.
Tak ada yang bisa mendeteksinya, karena hanya Tuhan yang punya…

Nilai-nilai Bangsa Indonesia yang Perlu Dijaga

Oleh Michelle Anindya
University of Minnesota, MN

Summer 2012 saya baru pulang ke Indonesia setelah dua tahun tinggal di San Francisco. Dan betapa terkejutnya saya mengalami culture shock di negara sendiri. Terlebih lagi, saya bukanlah satu-satunya yang mengalaminya. Banyak teman saya yang setelah balik dari Indonesia, complain bagaimana Jakarta makin macet, government makin aneh dan korup, penonton-penonton bawel di bioskop, antrian diserobot, dan sebagainya.

Comparison is inevitable. Mau tidak mau, setelah hijrah ke negeri lain, pastilah akan memperbanding kebiasaan-kebiasaan di negeri sendiri dengan kebiasaan negeri lain. Terlebih lagi karena kecenderungan budaya Timur dalam menggunakan model budaya Barat sebagai standard modernisasi. Having been colonized by the Western for more than three centuries, we have come to adopt that the West is always the best. Budaya, adat istiadat, dan cara pikir Timur sering dipandang belum maju, seolah-olah, jika ingin maju, kita mesti berpikir lebih kebarat-baratan. Tidak ada yang salah dengan adat Barat. Dan tidak ada yang salah juga dengan adat Timur. Individualistis baik, begitu juga dengan gotong royong. Bebas berekspresi baik, begitu juga dengan sikap santun dan hormat. We just have to know when to do which. Namun lebih mudah bagi kita untuk mengatakan individualisme, sikap ekspresif, sikap terbuka, dan berbagai cara pandang Barat lebih maju daripada cara pikir Timur. Lebih lagi jika kita tinggal di America untuk bekerja atau studi. We forget what it means to be Indonesian.

Peran Pers Lokal Dalam Membangun Identitas Nasional

Oleh Trimanto B. Ngaderi

Banyak cara yang dilakukan untuk melestarikan nilai-nilai budaya sebuah kelompok atau suku-bangsa. Salah satunya adalah menerbitkan koran atau majalah lokal, baik yang menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa lokal setempat. Lewat koran atau majalah lokal, pihak media massa berupaya memberikan berbagai informasi dan melakukan pendidikan  yang terkait dengan nilai-nilai budaya setempat.

Dodolitdodolitdodolibret

Oleh Seno Gumira Ajidarma 
Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.
“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.
Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.
”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”
Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.
Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.
Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Ramah

Oleh Ratna Widayawanti
University of Kentucky, KY

Sejak kecil aku selalu bertanya-tanya, kenapa bangsa lain selalu bilang bahwa kita, orang Indonesia adalah orang yang ramah? Padahal di luar sana banyak para bos yang seenaknya sendiri menghujat anak buahnya. Banyak teriakan-teriakan tak sabar dari para pengemudi di jalanan yang macet. Banyak pula preman-preman yang tak pernah ramah terhadap korbannya. Lalu kenapa? Bagaimana bisa kita dikenal ramah oleh bangsa lain?

This Highway Never End

Oleh Evi Susilowati
University of Minnesota, MN

Possessing grief
Hosting idiocy
Oh my land
There’s nothing left but me seeing beyond your sky.

In the quietness of my solitude I see,
A grief, a starving, a deep sorrow of you,
Pieces of emotion,
This highway would never end,
Where you hang all of your own,
I would never deal with that I see.

In the quietness of my loneliness I hear,
A scream, a silent anguish
A rebellion of hidden destitute knight,
This highway would never end,
Where you hang of all your own,
Let me spread virtue seeds on you.

Oh my land,
I can’t give you twinkle stars above the sky,
I can’t give you all blooms in this universe,
For every excess of insult
There can be equal in acceptance
For every excess in oppression
There can be an equal in uplifting
This highway would never come to an end,
but let my glass moon lights up this journey.